Studentpreneur Talk Sekolah BM 400: Sisi Kemanusiaan dan Bisnis Rumah Sakit

Dr Sutrisno Muslimin  Msi. menghadiri acara CEO & Studentpreneur Talk Sekolah BM 400, Jumat (4/3)

JAKARTA — Sekolah Bakti Mulya 400 (BM 400) kembali menggelar CEO & Studentpreneur Talk. Acara yang berlangsung pada Jumat (4/3) mengusung tema Hospital: Humanity vs Business.

Acara ini dihadiri oleh Ir. Anna Rosita Subagja selaku Presiden Direktur Rumah Sakit (RS) Pondok Indah Group sekaligus Ketua Dewan Pengurus Sekolah BM 400 dan Dr Sutrisno Muslimin Msi selaku Ketua Pelaksana Harian (KPH) Sekolah BM 400.

Elora Nareswari (kiri) sebagai MC dan Keilla Talita Alea (kanan) sebagai Moderator dalam acara CEO & Studentpreneur Talk yang diselenggarakan oleh Sekolah BM 400.

Dilaksanakan secara virtual, acara kali ini dipandu oleh Ketua OSIS SMP BM 400, Elora Khiar Nareswari dan Keilla Thalita Alea selaku ketua OSIS SMA BM 400 sebagai moderator, serta diikuti oleh siswa-siswi Sekolah BM 400.

Pembukaan acara ditandai dengan opening speech yang disampaikan Ketua Pelaksana Harian (KPH) BM 400, Dr Sutrisno Muslimin, Msi. Dalam sambutannya, Dr. Sutrisno mengungkapkan sejak tahun 2013, salah satu bisnis yang mempunyai prospek besar adalah bidang kesehatan.

“Tema yang kita ambil untuk CEO & Studentpreneur Talk kali ini memang sangat relevan, karena sejak 2013 bahwa dan ke depannya, salah satu bisnis yang punya prospek adalah bisnis kesehatan,” ungkapnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

“Selain itu, di masa pandemi, budget terbesar di tingkat nasional atau Indonesia, dialirkan untuk bidang kesehatan,” sambung Dr. Sutrisno.

Tak kalah penting, Dr. Sutrisno juga mengungkapkan harapan serta tujuan dari acara CEO & Studentpreneur Talk yang rutin diselenggarakan oleh Sekolah BM 400 terhadap masa depan para murid Sekolah BM 400.

“Tujuan ke depannya, para murid Sekolah Bakti Mulya 400 akan menjadi orang-orang yang memiliki peran besar, baik sebagai enterpreneur maupun profesional dan menjadi leader dimanapun mereka berada,” tutupnya.

Sejalan dengan tema Hospital: Humanity vs Business, CEO & Studentpreneur Talk kali ini mengundang dr Yanwar Hadiyanto, MARS selaku Chief Executive Officer (CEO) RS Pondok Indah (RSPI) Group untuk tampil menjadi narasumber.

dr Yanwar Hadiyanto, MARS, CEO RS Pondok Indah Group menjadi narasumber dalam CEO & Studentpreneur Talk Sekolah BM 400

Dalam acara ini, dr Yanwar membagikan pengetahuan dan pengalamannya seputar bisnis rumah sakit, dimana dia mengatakan bahwa bisnis rumah sakit harus dijalankan dengan mengedepankan misi sosial dan kemanusiaan daripada hanya mencari keuntungan.

“Kalau kita berbicara mengenai rumah sakit, dari awal ada aspek dan tanggung jawabnya dalah pada humanity & sosial,” tutur dr Yanwar.

“Sebagai rumah sakit berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) pertama di Indonesia, sekaligus merupakan rumah sakit komersial, RSPI tetap menonjolkan aspek humanitydan sosial,” jelasnya.

Dia melanjutkan, ke depannya tren dalam bisnis rumah sakit berkaitan erat dengan teknologi. Oleh karena itu, RSPI sudah menerapkan digitalisasi pada sistem informasi rumah sakit guna meningkatkan pelayanannya.

“Tren yang terbuka untuk bisnis rumah sakit ke depannya justru berhubungan dengan teknologi seperti data mining (pengolahan data) dan artificial intelligence yang akan sangat membantu,” ujarnya.

“Oleh karena itu, RSPI terus mengembangkan diri mulai dari meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitas, pelayanan, teknologi (medis/digitalisasi), dan sistem rumah sakit,” pungkasnya.

Yang tidak kalah antusias adalah saat forum tanya jawab. Salah satunya Azila Vadla dari X MIPA 5 bertanya, mengingat RSPI merupakan salah satu rumah sakit yang mendukung transformasi teknologi dan digitalisasi. Maka Azila ingin dijelaskan tentang hal-hal yang perlu dilakukan siswa sebagai generasi masa depan di era digital.

Baca juga : BM 400 Students Talkshow: “Racer” from Hobby to Lucky

Sebagai jawavannya, dr. Yanwar menjelaskan ada dua hal penting yang perlu dilakukan oleh siswa, yaitu memanfaatkan akses informasi dan mengikuti arus digitalisasi yang ada saat ini.

Opportunity di era digital sangat luar biasa. Kita bisa mengakses informasi dengan sangat mudah. Jadi, langkah pertama, manfaatkan info yang ada untuk memperkaya pengetahuan kita,” jawab dr Yanwar.

“Kedua, dari sisi digitalisasi, rasanya apapun industri-nya, tidak akan bisa menghindar dari digitalisasi. Ketika kita tidak ikut arus digitalisasi, maka kita akan ketinggalan,” pungkasnya.

Meskipun tidak semua pertanyaan terjawab dengan waktu yang terbatas, namun seluruh penjelasan dr Yanwar telah  memberi wawasan yang luas kepada seluruh peserta tentang aspek kemanusiaan dan bisnis dari rumahsakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *