MENCARI LEMBAGA PENDIDIKAN PASCA COVID 19

Pada situasi situasi pandemi covid 19  ada dua sisi menarik, yaitu keterbatasan gerak dan keharusan untuk kreativitas. Keterbatasan karena kebijakan PSBB yang mengharuskan kita bekerja dari rumah. Namun dalam waktu yang bersamaan kita harus berpikir kreatif agar pekerjaan tersebut bisa selesai. Demikian pointer yang disampaikan Sudirman Said pada pembuka webinar dengan judul Memikirkan Kembali Pendidikan Kita: Refleksi di Tengah Pandemi COVID-19.

Webinar yang berlangsung Sabtu, 16 Mei 2020 sekaligus acara openhouse Sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh praktisi pendidikan dan orang tua siswa baru sekolah tersebut. Peserta yang berjumlah lebih 130 orang berlangsung dengan lancar mulai pukul 8.30 sampai 10.00 WIB.

Acara tersebut ditujukan kepada praktisi pendidikan dan orang tua. Untuk praktisi pendidikan diharapkan mampu membuat langkah parktis pasca Covid 19. Kepada orang tua diharapkan memiliki wawasan pentingnya memilih lembaga pendidikan pasca Covid 19.

Tampil sebagai MC dan moderator acara, Eliyani Umas, kepala SD Bakti Mulya 400 dengan susunan acara paparan program sekolah, pengarahanan umum dan seminar pendidikan. Paparan program disampaikan oleh Hadi Suwarno, manager SBM-2 sedangkan pengarahan umum disampaikan oleh Ketua Pelaksana Harian (KPH), Bakti Mulya 400, Sutrisno Muslimin.

Dengan mengutip, futurolog Alvin Tofler  penuis buku “Future Shock” , Sutrisno Muslimin mengingatkan bahwa orang yang buta huruf di abad 21 bukan mereka yang yg tidak mamppu membaca. Orang yang buta huruf abad 21 adalah orang yang tidak mampu belajar, org yang tidak mau belajar dan orang yang tidak mau belajar kembali.

Karena itu, lanjut Sutrisno Muslimin, lembaga pendidikan harus menjadi lembaga yang paling cepat mengalami perubahan. Perbahan itu dimulai dari guru yang mampu menyesuaikan perubahan dengan menciptakan pembelajaran kolaboratif, aktif dan partisipatif. Guru harus menjadi hebat dalam hal membuat siswa kraetif, inovatif dan compassion terhadap ilmu pengetahuan.

Bahkan Sutrisno Muslimin mengingatkan: “siapapun yang menjadi tenaga pendidik pada hari ini yang tidak berubah mengikuti perubahan fundamental maka mohon maaf mereka akan tergeser, terpinggirkan karena perubahan jaman”.

Dengan menyadari hal ­­­­­tersebut, Sekolah Bakti Mulya 400  juga terus menyesuikan dalam aspek infra struktur dan supra struktur. Sekolah melakukan perbaikan yang berkelanjutan pada guru, sarana baik fisik, maupun sarana pembelajaran sesuai perubahan paradigma.

Selaras dengan pentingnya dinamika perubahan, Sudirman Said menyampaikan beberapa pointer paparan seminarnya. Pertama, sekarang ini ada kecenderungan perusahaan-perusahaan besar menerima pegawainya bukan berdasarkan ijazah tapi berdasarkan capability pekerja. Sekolah harus memberikan bekal ketrampilan (skill), pengetahuan maupun attitude.

Baca Juga : Pentingnya Pendidikan Softskill

Selengkapnya bisa dibaca…

Kedua, orang yang sukses dalam berkarir umunya karena didorong oleh passion mereka.

Ketiga, Indonesia akan menjadi negara dengan pendapatan perkapita terbesar ke 4 di dunia pada tahun 2050 apabila Indonesia mampu menggunakan potensi penduduk yang besar, kaya sumber daya alam dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Keempat, bila kita ingin membekali anak dg ketrampilan yang tidak akan lekang oleh waktu maka bekalilah dengan empat halintegrity/kejujuran, kompetensi (teknis, manajerial, sosial)networking (berteman, masuk berbagai organisasi, minat)  dan learning to learn (memupuk minat belajar).

Mengakhiri paparan seminar Sudirman Said menyampaikan pesan kepada orang tua yang sedang memilih sekolah: “Bakti Mulya 400 is the best choice, karena keseimbangan antara kemampuan teknikal, pemahaman global, nasionalisme, juga fondasi keagamaan terbangun dengan baik secara seimbang, Pada akhirnya shofskill yang akan menentukan apakah seseorang akan survive pada dunia yang cepat berubah”. Pada acara tersebut juga tampil testimoni orang tua siswa yang memberikan apresiasi terhadap program sekolah. Ibu Rosa orang salah satu orang tua SD Bakti Mulya 400 menyampaikan bahwa putrinya mampu menampilkan bakat optimalnya karena peran guru sekolah. Demikian juga Ibu Irene Librawati orang tua SMP Bakti Mulya 400 memberikan respon positif karena anaknya menjadi pribadi yang lebih matang dan percaya diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *