MASA DEPAN STARTUP INDONESIA

CEO And Studentpreneur Talk kembali diselenggarakan oleh Sekolah Bakti Mulya 400, Jakarta. Acara tersebut berlangsug pada Jumat, 8 Oktober 2021 mengusung tema “The Future of Indonesian Startup”.

Acara ini bertujuan untuk memberikan wawasan kewirausahaan kepada siswa SMP dan SMA Bakti Mulya 400 Jakarta. Kegiatan yang berlangsung secara virtual tersebut dipandu Queeny Nadira Pambudi, bidang kewirausahaan OSIS SMA Bakti Mulya 400. Sedangkan moderator oleh Hevita Clara, sekertaris OSIS SMA Bakti Mulya 400.

Dr. Sutrisno Muslimin, M.Si. Ketua Pelaksana Harian (KPH) Bakti Mulya 400 dalam sambutan pengantar menyampaikan bahwa dengan menghadirkan tokoh sukses di bidangnya, acara CEO Talk bertujuan agar semua siswa miliki cita-cita yang tinggi.

Sutrisno Muslimin juga mengingatkan bahwa sekarang ini banyak pekerjaan yang hilang karena tergantikan teknologi. Karena itu siswa hendaknya memiliki cita-cita dengan daya jangkau jauh ke depan.

“Karena pekerjaan masa sekarang belum tentu ada masa mendatang, maka semua perubahan itu harus diantisipasi sedini mungkin. Barangsiapa yang tidak mengantisipasi perubahan makai ia akan kehilangan orientasi”, tandas Sutrsino Muslimin.

Tampil sebagai guest speaker adalah CEO Bukalapak, Rachmat Kaimuddin. Dilihat latar belakang pendidikan, Rachmat Kaimuddin meraih gelar BSc dari Massachusetts Institute of Technology dan gelar MBA dari Stanford Graduate School of Business. Dengan latar belakang akademik tersebut, diharapkan siswa dapat mengambil contoh pentingnya belajar dengan sungguh-sungguh untuk bekal merintis usaha startup.

Rachmat Kaimudin mengaku baru kali ini bicara dihadapan siswa sekolah, sebelumnya lebih banyak bicara di hadapan pelaku dan pemodal usaha. Oleh karena itu forum tersebut menjadi sharing istimewa untuk siswa Bakti Mulya 400.

Secara sederhana Rachmat Kaimudin menyampaikan tiga lengkah menjadi pengusaha startup.

Pertama, mulai dari pertanyaan tentang masalah apa yang  ingin diselesaikan. Kedua, menjawab pertanyaan, dengan teknologi apa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ketiga, miliki modal untuk merealisasikannya.

Baca juga : HUT KE- 38 BM 400: BERKHIDMAT MELAHIRKAN TUNAS BANGSA CERDAS MULIA

Berbicara soal modal, Rachmat Kaimudin meyakinkan kepada siswa bahwa modal usaha tidak selalu berjumlah besar. Ia bercerita: “Ketika Bukalapak didirikan modalnya hanya delapanpuluh ribu rupiah”.

Sambungnya: “Sebelas tahun kemudian, tepatnya tanggal 6 Agustus 2021, modal itu telah menjadi 87 triliun”.

Rachmat Kaimudin  menambahkan bahwa Bukalapak merupakan startup yang memungkinkan para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk menjalankan perdagangan lewat dunia maya. Perusahaan tersebut kini telah melakukan ekspansi ke berbagai lini bisnis lain, termasuk membantu meningkatkan penjualan para warung tradisional lewat layanan Mitra Bukalapak.

Kegiatan webinar berlangsung dengan antusias diwarnai dengan tanya jawab siswa sampai ditutupnya acara tersebut. Siswa mendapat gambaran pentingnya belajar dengan baik, selalu berinovasi, bekerja keras dan berupaya memecahkan masalah sesuai kondisi masyarakat sekitar.